DYAH DWI FEBRIANTINA
A3-12
Struktur kepribadian:
I.
Kesadaran
Yaitu, segala pengamatan (hasil yg ditangkap)
melalui indera yg diketahui, dimengerti, dipahami oleh individu.
II.
Tak
sadar pribadi (komplek terdesak)
Yaitu pengalaman-pengalaman individu yg
menyakitkan sehingga didesak, disimpan, atau dilupakan. Pengalaman-pengalaman
ini tidak hilang, sewaktu-waktu dapat muncul, misalnya dalam bentuk mimpi,
salah bicara, ngompol.
Ahli-ahli psikologi kepribadian
seperti Freud, Jung, berpendapat bahwa ada beberapa teknik untuk mengungkap
komplek terdesak, yaitu:
- Teknik Asosiasi Bebas
Psikolog/ guru/ pendidik mengucapkan atau
menunjukkan kata-kata sebagai bahan pancingan. Individu/ pasien/ murid diminta
memberikan reaksi apa saja yang terlintas (teringat) setelah mendapat stimulus
tersebut.
2.
Analisis Mimpi
Mimpi merupakan bentuk dari komplek terdesak
yang disembunyikan. Karena itu dengan
analisis mimpi, psikolog, guru, pembimbing dapat mengetahui
pengalaman-pengalaman lampau dari pasien/ murid (yang sengaja dilupakan karena
menyakitkan).
3.
Analisis Transference
Transference adalah memindahkan nilai-nilai
dari orang lain yang dikagumi (dipuja) seakan-akan menjadi nilai milik dirinya.
4.
Analisis Resistance (Resisten)
Menganalisis hambatan-hambatan yang dialami seorang murid.
III.
Tak Sadar Kolektif
Yaitu gudang ingtan-ingatan yang diwariskan
oleh leluhur (antar generasi).
IV.
Pesona (Topeng)
Yaitu, wajah yang dipakai saat menghadapi orang
lain (publik).
Pesona menunjukkan sifat-sifat baik yang
menyenangkan umum, meskipun sifat aslinya berlawanan.
V.
Anima dan Animus
Pada dasarnya manusia itu besex (2 jenis
kelamin), demikian pula dengan dalam kepribadian. Laki-laki yang aslinya
kepribadian laki-laki, memiliki pula kepribadian wanita, disebut anima.
Sebaliknya wanita juga memiliki kepribadian laki-laki, yang disebut animus.
VI.
Shadow (bayangan)
Mencerminkan bahwa manusia itu memiliki sifat
binatang buas, iblis.
VII.
Self
Yaitu konsep keutuhan, kesatuan kepribadian
dari unsur-unsurnya.
Keutuhan, kesatuan unsur-unsur kepribadian baru
akan tercapai setelah setengah baya. Hal ini disebabkan, menurut Jung: dulu unsur-unsur kepribadian
itu harus berkembang secara optimal lebih dulu. Setelah unsur-unsur
berkembang secara optimal, baru
disatukan.
Tipologi Kepribadian menurut Jung, ada 2 golongan, yaitu:
- Sifat-sifat ekstroversi, yaitu sifat keterbukaan, tidak ditutup-tutupi, baik dalam hal pikiran, perasaan, penginderaan, dan intuisi. Segalanya secara terbuka terang benderang, tidak dirahasiakan.
- Sifat-sifat introversi, yaitu sifat ketutupan dalam hal pikiran, perasaan, penginderaan, dan intuisi, semuanya serba tertutup.
Dinamika Kepribadian menurut Jung
Dinamika, perubahan-perubahan kepribadian ke arah balance (seimbang),
mengikuti arah balance (seimbang), mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.
Prinsip Oposisi
Kesatuan unsur-unsur kepribadian dapat terjadi
suatu saat karena ada unsur lain sebagai kontrol oposisi (misal nilai-nilai
dari super ego).
2.
Prinsip Kompensasi
Mencapai keseimbangan dengan cara mengisi
kekurangan unsur yang satu dengan kelebihan unsur yang lain (saling mengisi
kekurangan).
3.
Prinsip Penggabungan
Menghindari pertentangan-pertentangan untuk
mencapai kepribadian yang seimbang, integrasi. Misalnya: melalui transedental
(hubungan dengan Tuhan, Ibadah).
2. Teori
Kepribadian Menurut Notonegoro
Kepribadian itu terdiri dari 8 (delapan) unsur, yaitu:
- Unsur jasmani
Bahwa jasmani dengan segala kebutuhan untuk
hidupnya tidak boleh dilupakan dan harus ada. Karena itu unsur jasmani harus
dipelihara, tidak boleh menyiksa diri.
2. Unsur cipta
Bahwa cipta, pikiran, intelegensi, ingatan,
pengamatan, sangat menentukan kepribadian manusia.
3. Unsur rasa, emosi
Perasaan tingkat rendah (yang berhubungan
dengan biologis), misalnya perasaan sakit, panas, dingin,. Ataupun perasaan
tingkat tinggi, misalnya perasaan religius,
khidmat, perasaan ethis, perasaan
aesthetis.
4. Unsur Manusia sbg Makhluk Sosial
Bahwa manusia itu tergantung satu sama lain.
Manusia tidak dapat hidup sendirian, tetapi harus bersama dan saling bergantung
satu sama lain.
5. Manusia sebagai Makhluk Berdiri Sendiri
Bahwa manusia itu harus berusaha dengan tekat
dan kekuatan sendiri.
6. Unsur Karsa/ Kemauan/ Kehendak
Misalnya: insting, hasrat, keinginan, nafsu,
hawa nafsu.
7. Unsur Manusia sbg Makhluk Individu
Bahwa manusia itu mempunyai sifat-sifat
individualis yang satu sama lain berbeda-beda. Tidak ada individu yang sama,
meskipun jumlahmya berjuta-juta, bahkan anak kembarpun berbeda, meskipun mirip, tetapi tetap berbeda
8. Manusia sebagai makhluk Tuhan
Bahwa manusia ada karena diciptakan oleh Tuhan.
Meskipun manusia telah berusaha dengan keras tetapi hasil ditentukan oleh
Tuhan.
Dinamika Kepribadian
Menurut Notonegoro, kekuatan tiap-tiap unsur kepribadian tersebut selalu berubah-ubah setiap saat dan
berbeda-beda setiap individu. Karena setiap unsur kepribadian tsb selalu
berubah-ubah kekuatannya, maka kesatuan (konvergensi) dari unsur-unsur tersebut
integritasnya juga selalu berubah-ubah, mengalami dinamika.
Sifat Kepribadian
- Kepribadian bersifat kesatuan, keseluruhan yang utuh dari 8 unsur.
- Serasi selaras, bahwa unsur-unsur yang jumlahnya 8 tersebut serasi, senada (selaras), meskipun kekuatannya berbeda.
- Seimbang, bahwa kuat lemahnya unsur-unsur tersebut selalu seimbang sesuai keadaan, meskipun berbeda.
- Organis, bahwa kesatuan ke-8 unsur tsb merupakan kesatuan yang hidup sbg organisme.
- Dinamis, bahwa kesatuan ke-8 unsur itu berubah-ubah, menyesuaikan diri dng kondisi dan situasi.
Penerapan dalam
Pendidikan Anak
Kepribadian yang integral akan selalu tercermin dan terbentuk dengan
mengikuti 4 petunjuk utama dalam pendidikan kepribadian (budi pekerti) :
- Lambe Ati
Bahwa anak harus ditanamkan untuk konsisten
bicara sesuai dengan hatinya, tidak munafik, tidak bohong, perkataan dan
hatinya cocok (ojo seje ati seje lambe/ lain hati lain perkataan)
2. Empan papan
Murid-murid (SD) harus dilatih, dibiasakan jika
bertingkah laku disesuaikan dengan tempat. Bisa menyesuaikan diri dengan tempat
berada.
- Kolo Mongso
Jika bertindak harus mengingat waktu. Murid
diberi contoh, dibiasakan mempertimbangkan waktu.
4. Dugo Prayogo
Jika berbuat sesuatu harus dipertimbangkan
bagaimana sebaiknya, musyawarah mufakat.
3.
PERIODESASI PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN ANAK
- Dilakukan dengan dasar 6 tahunan/ sad irama (sad: enam). Tokoh: Comenius, Yunani.
0.01 – 6.0 tahun masa kanak-kanak (childhood)
6.01 – 12.0 tahun masa anak sekolah
12.01 – 18.0 th masa remaja
18.01 – 24.0 th masa dewasa
2. Cara kedua digunakan dengan dasar 7 tahunan
atau sapta irama. (sapta berarti 7).
Dengan dasar 7 tahunan, maka periodesasi
perkembangan kepribadian anak sbb:
Umur
0,01 –
7.00 th disebut masa kanak-kanak (childhood).
7.01 – 14.00 th disebut masa anak sekolah
14.01 – 21.00 disebut masa remaja
21.01 – 28.00 disebut masa dewasa
Penggunaan periodesasi atau fase-fase
perkembangan dengan dasar 6 tahunan (sad irama) atau 7 tahunan (sapta
irama) tersebut di tiap daerah negara berbeda-beda, tergantung dari iklim,
geografis, kebudayaan, dan kemajuan (modern/ tertinggal).
Periodesasi perkembangan kepribadian anak sngt
berguna dalam pendidikan, karena :
- Dalam tiap-tiap periode/ fase perkembanngan kepribadian, anak mempunyai sifat/ karakter yg berbeda-beda. Pendidikan harus menyesuaikan diri dng karakteristik anak saat fase tsb.
- Dalam perkembangan kepribadian anak, akan muncul masa peka. Masa peka itu hanya akan muncul satu kali seumur hidup. Saat muncul masa peka harus diberikan pendidikan yg cocok dengan masa peka. Jangan masa peka itu hilang sia-sia.
Masa peka yaitu:
Saat dimana anak mampu, siap, dan membutuhkan
rangsang pendidikan untuk berkembang sebaik-baiknya. Masa
peka merupakan masa emas untuk berkembangnya suatu kemampuan. Masa peka itu
bersifat individual, artinya setiap anak berbeda-beda kapan munculnya.
Karakteristik
Periode Masa Kanak-Kanak
Masa kanak-kanak dibatasi umur 0.0 – 7.00 tahun, yaitu sejak lahir sampai
umur 7 tahun. Dimulai masa bayi atau masa vital. Pertumbuhan (segi jasmani) dan
perkembangan (segi kejiwaan) berlangsung sangat cepat. Muncul kemampuan yang
disebut skemata, yaitu pola raih dan pola isap. Kegiatannya didominasi
oleh meraih segalanya. Saat ini ibu menjadi pendidik utama. Karena itu Comenius
(Yunani) menyebut “scola materna” sekolah ibu.
Beberapa
karakteristik masa kanak-kanak
- Anak suka meraih dan menghisap apa saja barang-barang yang berdekatan. Karena itu jauhkan benda-benda berbahaya di dekatnya.
- Anak suka meniru, oleh karena itu seorang pendidik dan orang-orang di sekitar harus bicara dan bertingkah laku sesuai norma-norma budi pekerti luhur, yaitu hati yang suci. Hati yang suci akan mencerminkan pada sifat-sifat normatif , seperti kejujuran, toleransi, empati dan menghargai orang lain, sepi ing pamrih (tidak ada motif menguntungkan diri sendiri dan kelompok
- . Anak bersifat egocentris
Memandang dirinya sebagai pusat segalanya. Egocentris berbeda dengan egoistis. Egoistis –
mementingkan diri sendiri (sifat yg jelek). Egocentris menganggap segala
sesuatu berpusat pada dirinya (tdk jelek, hanya anggapan).
4.
Anak
suka berdusta kanak-kanak
Dusta kanak-kanak ada 2 macam:
- Dusta fantasi
Anak sering mengemukakan hal-hal yang bersifat
fantasi., sekalipun tidak ada niat atau maksud dari anak untuk berdusta.
Fantasi berbeda dengan berpikir, bila berpikir adalah menemukan sesuatu yang
sudah ada tetapi belum diketahui, sementara fantasi mencipatakan sesuatu yang
baru.
b. Dusta bermegah diri
Misalnya:
-
Aku punya mobil banyak.
-
Aku punya rumah banyak.
-
Bapakku jadi dokter.
-
Dsb
Karena itu anak (kanak-kanak) tidak boleh
menjadi saksi.
5.
Anak suka
bermain
Masa anak adalah masa bermain, masa keemasan.
Tiada waktu tanpa bermain. Karena itu pendidikan dan pengajaran menggunakan
permainan sebagai media, teknik, dan metode mengajar. Guru harus kreatif
menciptakan permainan dan menggunakan permainan untuk mendidik.
4.
Perkembangan
Kepribadian Anak masa Kanak-Kanak
a.
Pada masa
bayi atau masa vital (ingat kuliah yang lalu), perkembangan skemata pola raih
dan pola isap sangat dominan dan cepat. Semua untuk kebutuhan fundamental (si
bayi), karena itu disebut masa vital. Pertumbuhan jasmaniah (biologis) juga
berlangsung cepat. Setelah umur 3;0, sifat pribadi anak yang
menonjol adalah kumratu-ratu (seperti raja). Ingin dilayani lebih, harus
menang, ingin diperhatikan, tidak boleh ada saingan. Sedang sifat egocentris
masih melekat, disamping dinamis, suka bermain, dan mengkhayal.
b.
Periode
Masa Anak Sekolah (umur 7.0 – 13.11)
Dalam periode ini disebut masa anak sekolah
karena dalam umur ini anak masak untuk sekolah.
Alat-alat pendidikan yang cocok untuk periode
Sekolah Dasar:
- Dresur
- Kebiasaan
- Teladan
- Ganjaran atau hadiah
- Larangan
- Hukuman
- Siasat
- Permainan
Perbedaan bermain dengan bekerja, bekerja
mengharapkan hasil (materi), sedang bermain tidak, kadang-kadang malah membuang
uang.
Macam-macam permainan (bermain):
- Permainan fantasi, misalnya anak bermain mengkhayal
- Permainan peran, misalnya anak bermain sebagai superman, pasaran, dokter-dokteran, sekolah-sekolahan, dll.
- Permainan sangat cocok sebagai alat dan media pendidikan dan pengajaran untuk setiap mata pelajarn, baik secara terpisah (per mata pelajaran) maupun integratif.
5.
Periode Masa
Remaja, umur 14,01 – 21,00
Masa
remaja merupakan masa peralihan atau transisi dari masa anak sekolah ke
masa dewasa. Masa remaja bukan kanak-kanak, bukan juga dewasa.
Masa remaja
diawali dengan masa pubertas.
Ciri-ciri masa pubertas:
- Jasmani menjadi lebih tinggi, tidak sebanding dengan besarnya badan. Kelihatan nluncing dan wagu. Orang jawa mengatakan mongso nduduti. Awake didudut munggah. Jasmaninya seperti ditarik ke atas, sehingga menjadi lebih tinggi tetapi kecil.
- Mulai tumbuh tanda-tanda kelamin sekunder. misalnya; di sekitar alat kelamin mulai tumbuh bulu-bulu rambut. Untuk pria areanya berbentuk segitiga, sedang untuk wanita areanya berbentuk segi empat.
- Pita suara (kolo menjing)
Pada pria mulai nampak, sedang pada wanita
tidak nampak. Pada pria nampak membesar sedang pada wanita sama saja (tidak
membesar).
- Suara mulai berubah, terutama pada pria. Orang jawa menyebutnya ngagor-agori, yaitu suaranya membesar.
Setelah remaja awal (pubertas), ia benar-benar
masuk masa remaja.
- Masa remaja (adolesence) sering dianggap sebagai masa storm & stress, masa yang penuh frustasi dan konflik, masa harus dilakukannya penyesuaian diri, masa percintaan dan roman. Masa remaja merupakan masa krisis nilai (kosong nilai). Ia (masa remaja) dalam keadaan krisis nilai karena sudah meninggalkan masa kanak-kanak tetapi masa dewasa yang akan dimasuki belum tercapai, sehingga nilai-nilai kedewasaan belum dicapai. Ia (remaja) dalam peralihan (transisi). Yang lama telah ditinggalkan, yang baru belum diperoleh. Jadi malah kosong
2.
2. Ia
(remaja) kadang-kadang masih bersifat masih seperti kanak-kanak, tetapi
kadang-kadang seperti orang dewasa. Ia (remaja) mulai mencoba seperti orang
dewasa
3.
Kepribadiannya
bersifat seperti topan dan badai (strum und drang-Jerman).
Sifat topan dan badai yaitu: suatu saat keras,
ribut, menggebu-gebu, tetapi tiba-tiba tenang dan ribut lagi.
4.
Sikap
sosialnya sangat tebal terhadap teman sebaya (peer group).
Solidaritas terhadap teman sebaya dapat
mengalahakan solidaritas terhadap orang tua maupun terhadap saudara kandung.
5.
Bersifat
petualang, mengembara, “mencari untuk menemukan”. Tidak betah di rumah,
berkelompok teman sebaya.
6.
Bersifat protes
tersembunyi terhadap kehidupan sekitar . Ia merasa tidak diperhitungkan. Identitas
dirinya tidak (belum) diakui oleh masyarakat. Masyarakat menganggap remaja
masih kanak-kanak. Sedang remaja minta diakui seperti dewasa. Oleh karena itu
protes secara kejiwaan.
Telah kita bicarakan bahwa remaja merupakan
masa transisi dari masa anak ke masa dewasa. Masa anak mulai ditinggalkan, masa
dewasa belum dicapai. Sehingga remaja kadang-kadang masih seperti anak, tetapi
kadang-kadang ingin nampak seperti dewasa. Kecuali itu remaja mengalami masa krisis nilai. Nilai-nilai masa
kanak-kanak sudah dilepas sedang nilai-nilai dewasa belum didapatkan.
Aplikasi atau penerapan dalam pendidikan dan
pengajaran:
1.
Guru harus selalu memberikan tauladan yang
baik dalam bicara, perbuatan, sikap, berpakaian, dsb. Apalagi sifat anak suka
meniru. Guru harus benar-benar dapat digugu lan ditiru
2.
Guru harus
dapat memberikan semangat, mendorong, memberikan motivasi kepada murid untuk
mencapai prestasi belajar yang berupa ilmu pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan
nilai-nilai budi luhur.
3.
Guru harus
memberi kesempatan kepada siswa untuk tampil ke depan berinisiatif sebagai
subyek yang berkreasi sedang guru berada di belakang, tetapi memberikan
kekuatan. Seorang pendidik berada di depan memberikan contoh (tauladan), berada
di tengah membangun kehendak, kemauan, semangat, sedang di belakang mengikuti
tetapi memberikan daya kekuatan.
4.
Guru harus
menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik pada anak (siswa)
5.
Guru
mengenal datangnya masa peka pada siswa, yaitu masa datangnya suatu kesempatan
emas untuk berkembangnya suatu kemampuan pada anak. Masa peka tersebut harus
segngnyera digunakan oleh guru, jangan disia-siakan karena datangnya hanya satu kali.
6.
Berikan
pelajaran sambil bermain atau dengan kata lain “belajar dengan media bermain.
Banyak permainan-permainan dapat digunakan sebagai media pembelajaran.
7.
Sifat anak
sangat aktif, dinamis, tidak mau duduk manis
8.
Tanamkan
nilai-nilai positif pada remaja karena mereka sedang berada pada masa krisis
nilai. Nilai masa anak ditinggalkan
sedang nilai masa dewasa belum didapatkan.
Jangan memberikan cap bahwa remaja serba
negatif. Gunakan cara partisipan. Guru masuk. Ikut serta kepada kegiatan
remaja. Sekiranya menjurus ke hal-hal negatif guru membelokkan ke jalan lurus
secara strategi tidak menyolok.
Assalamualaikum. Mohon maaf, ini referensi nya dari buku apa ya? Bisa tolong beritahu saya judul buku serta penulisnya🙏
BalasHapus